Jarak

Selasa, 15 Oktober 2013
Udah bayar Rp 100rb... duduk doang ngedengerin seminar yg topiknya muter-muter... pulangnya kaga sempet beli oleh-oleh... makan malem di KFC... #JAUH-JAUH KE BOGOR#

Itulah rangkuman perjalanan saya di Bogor selama seharian. Tidak ada yang menarik. Untunglah di malam sebelum keberangkatan, saya menyempatkan membeli buku yang niatnya akan saya habiskan selama perjalanan, namun ternyata buku itu berhasil saya habiskan saat seminar yang topiknya muter-muter sedang berlangsung.

Buku yang saat itu saya baca berjudul Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin karangan Tere Liye. Menurut saya buku itu masih dalam kategori  biasa saja, gak seru-seru amat. Disini  saya bukan membahas tentang buku ini, melainkan akan membahas salah satu makna tersirat dalam buku ini, yaitu mengenai:


Jarak

Menurut definisi saya jarak adalah sesuatu yang berada diantara sesuatu sehingga memisahkan sesuatu (sesuatu sekali ya definisi saya). Intinya jarak adalah sesuatu yang memisahkan.

Dalam buku ini diceritakan kisah Tiana dan Danar yang terpisahkan karena jarak. Awalnya faktor tempat yang membuat mereka terpisahkan, lalu lama kelamaan faktor perasaanlah yang membuat jarak diantara mereka semakin lebar. Saya tidak bisa menggambarkan secara jelas apa jenis perasaan yang membuat mereka terpisahkan, namun saya menggambarkannya sebagai perasaan gengsi. Untuk lebih jelasnya silakan baca sendiri bukunya, karena sekali lagi saya tekankan saya disini menulis untuk tidak membahas buku ini.
Menurut saya jarak dalam suatu hubungan tidaklah begitu berarti jika masing-masing individu berkomitmen yang kuat untuk kembali, kembali untuk bertemu. Memang, terpisahkan karena jarak adalah suatu yang berat dan merupakan tantangan yang besar dalam suatu hubungan, namun sekali lagi komitmen saat kepergiaan seseorang sangat menentukan apakah ia dapat berkumpul lagi dengan seseorang yang ditinggalkan. Tergantung... tergantung ia berkomitmen:

Pergi untuk “pergi” dan “mungkin” suatu saat akan kembali
Ataukah
Pergi untuk “kembali” dan “pasti” suatu saat akan kembali

Saat ini saya menjalin hubungan dengan seseorang. Tidak diragukan lagi, saya sayang kepadanya. Namun jika dipikir-pikir ini adalah suatu hubungan yang mungkin terancam dengan “jarak” dalam prosesnya. Kami berkuliah di Universitas yang sama, namun berbeda fakultas, jenjang, dan bidang ilmu. Hmmm tantangan yang cukup besar menurut saya.

Hubungan kami sejauh ini baik-baik saya. Kami masih sempat bertemu setiap hari jika kami mau, tapi apakah seiring berjalannya tahun keadaan akan masih tetap seperti  ini?... saya rasa tidak. Kehidupan adalah sesuatu yang dinamis.

Saat ini saja kami sudah disibukan oleh urusan kuliah masing-masing dan tentunya semakin tinggi tingkat yang kami jalani diperkuliahan berbanding lurus dengan jarak diantara kami berdua. Belum lagi godaan sana-sini.. yaaa u know lah.

Saat ini saya berada di tingkat tiga perkuliahan sedangkan ia berada di tingkat dua. hanya berbeda satu tingkat memang, namun percayalah itu merupakan tantangan yang sangat besar. Apapun tantangannya yang ditimbulkan oleh “jarak” diantara kami, saya akan tetap selalu berkomitmen :

““Pergi untuk “kembali” dan “pasti” suatu saat akan kembali “”

Ditingkat perkuliahan yang lebih tinggi lagi, saya akan menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata), Job Training, dan entah siapa yang akan lulus duluan. Ia juga begitu, semakin tinggi perkuliahan ia akan mengalami hal yang sama, namun waktunya saja yang tidak bersamaan dengan saya... hmmm jarak oh jarak.. tantangan oh tantangan.

Pasti akan banyak hal-hal yang terjadi  di tahun-tahun berikutnya...

Semoga Tuhan selalu menjaga niat saya ini. Amin...

“merasakan betapa nyaman memiliki seseorang yang memperhatikan dan melindungimu. Seseorang”  -Tere Liye-


 "jangan biarkan jarak menjadi penghalang, namun jadikanlah jarak sebagai medium suatu hubungan dan ijinkanlah komunikasi yg baik menghiasinya" -Randika-


0 komentar:

Posting Komentar