Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan

Jatinangor: Kampus Kehidupanku

Sabtu, 06 Januari 2018

Kesekian kalinya aku kembali menginjakan kaki di Jatinangor. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, "mengapa aku tidak merasa excited atau sedih, rindu atau apalah. Seakan-akan tidak ada yang spesial lagi. Namun satu yang tak berubah; rasa nyaman. Segera saja aku mendapatkan jawabannya. Jatinangor sudah menjadi bagian hidupku, aku merasa setiap sudut di Jatinangor aku telah mengetahuinya dengan baik. Ya... Jatinangor adalah rumah. Jatinangor aku anggap adalah kampung halamanku.

Jatinangor lebih dari sekadar tempat. Mungkin yang satu ini agak terkesan berlebihan, tapi ya... jika Jatinangor menjelma menjadi sesosok manusia, dia sudah aku anggap orangtuaku sendiri. Dia adalah tempat bersandar saat aku sedih, tempat berbagi saat aku senang, tempat istirahat saat aku lelah, bukan hanya fisik, namun juga jiwa.

Jatinangor adalah kampus kehidupanku. Nah mungkin ini istilah yang paling tepat. Sebanyak apa pengalaman hidup yang telah aku rasakan di Jatinangor? Aku rasa sudah banyak, terlalu banyak.

Aku tahu arti dari sebuah pertemuan, dan sebaliknya, merasakan pahitnya perpisahan dari sebuah pertemuan yang indah.

Darimu Aku telah belajar dan menjalani arti dari sebuah kesetiaan, meski pada akhirnya mendapat kejamnya pengkhianatan.

Darimu Aku telah belajar sukarnya menerima perubahan, ya mungkin tak akan bisa sekuat kamu yang terus dipaksa berubah.

Surga dan neraka jalan berdampingan disini.

Menebar pahala atau menikmati sebuah dosa ditawarkan dengan murah disini.

Bagiku Jatinangor adalah zona nyaman sekaligus zona tempur. Disatu sisi me-ninabobo-kan diri ini, dan disisi lain pernah membuat diri ini lebih kuat.

Persahabatan, percintaan, pertemuan, perpisahan, kesetiaan, pengkhianatan, dan semua pelajaran kehidupan telah kudapat dan kuambil hikmahnya.

Jatinangor sayang, kau yang membuatku kembali, kau juga yang mengajarkanku untuk belajar pergi. Tapi aku tahu jika kau selalu menerima saat aku kembali kelak.

Karena selalu ada alasan bagiku untuk kembali ke Jatinangor

Jatinangor 2018

Cahaya, Inspirasi dan Tujuan

Kamis, 28 Desember 2017

Kau bagai cahaya dalam kegelapan...

Hadir di permulaan...

Membuatku bertahan dalam perjalanan...

Kau adalah inspirasi...

Melahirkan sebuah imaji...

Membuatku hidup disepinya hari...

Kau adalah tujuan...

Ditengah kebingungan memunculkan harapan...

Yang membuatku terus berjalan...

Jiwa yang (hampir) Mati

Minggu, 11 Desember 2016


Aku masih ingat kapan terakhir kalinya tertawa lepas di kota ini,  memori itu kadang terulang di hari hari burukku.. sukurlah, sepertinya itu mencegahku dari kegilaan. Aku masih menyimpan beberapa foto ketika kita bersama, hey disana aku terlihat ceria dan begitu juga dengan kalian.  Kulihat ketika aku sedang sendiri, beberapa kali foto itu menjadi pengiring keluarnya air mata ini, dan mengingatkan jiwa yg lelah ini, jika aku pernah bahagia.

Hariku disini berat kawan, ya seperti biasanya.. namun tiada lagi penawar seperti sosok kalian kini, sosok yang menemani jiwa yang (hampir) mati.

Jika itu kalian, aku dengan senang hati mulai menerjang hari sebelum mentari.. jika itu kalian, aku dengan senang hati mengakhiri ketika jalan mulai sunyi.. jika itu kalian, tak ku pedulikan bising yang memekakan telinga.. jika itu kalian tak ku pedulikan panasnya kota.. jika itu kalian, jika itu kalian, tapi itu bukan kalian dan aku harap itu kalian

Lari dan Sembunyi



Aku lari dan sembunyi meskipun kau tidak mengejarku

Aku lari dari bayang-bayangmu yang tidak pernah lupa untuk tidak menghantui hari-hariku

Aku tenggelam dalam kenangan

Terkadang aku sesak dalam harapan

Aku lari dan sembunyi

Karena aku tak sanggup mengejar dalam sunyi

Ini hanya sementara, ini hanya sementara

Sebelum akhirnya aku kembali berlari membelah udara

Dan mungkin akan berakhir dalam kesunyian abadi

Karena harapan yang akan mati

Atau mungkin ini akan berakhir dengan alunan simfoni?

Entahlah, aku harap ada sedikit bantuan dari Sang Ilahi.

-WoodStation, Desember 2016-

Mendaki



Kita pernah berada di puncak, selama tiga bulan lamanya kita mendaki bersama.  

Saat ini kita telah sampai di kaki gunung dan sepertinya akan benar-benar berpisah.

Aku ‘kan mencari gunung lain yang akan kudaki, begitu juga dengan kamu.


Kau tak’ tahu betapa aku ingin kembali berjalan beriringan denganmu..

Betapa inginnya diriku dibantu dirimu saat pendakian sulit seperti saat ini.

Betapa inginnya diriku membantumu saat medan pendakian sedang ‘tak bersahabat.

Saat ini, hanya doa dan harapan baik yang bisa kuberikan padamu.

Selamat mendaki kawan, semoga kamu mendapat kebaikan dan pelajaran berharga selama pendakian.


Dan jika suatu saat Tuhan mengijinkan kita mendaki bersama lagi...

Aku ingin itu gunung terakhir yang kita daki.

-WoodStation,  Desember 2016-



“Teruntuk kawan-kawan terdekatku di Kemensetneg RI periode Mei-Agustus 2016, GRADE, RIZAL, HABIB, PULUNG, POLIN, BINTANG, EMA, ELIZA, PUTTI.”

Intuition

Minggu, 25 September 2016



Dans mon esprit, je pense toujours

Dans profond de mon coeur, j'espérant toujours

En plus profond de mon âme, je priant toujours

Que
 
J'aimerais que vous soyez ici

je ne sais pas le nom de cette jeune fille, j'aime juste son sourire, parce que son sourire comme la vôtre


-président Randika-

WoodStation, Septembre 2016

Hari yang Pernah Ada



Bagaikan angin yang membuat bendera dibelakangmu berkibar.


Demi bangku-bangku yang kini kosong karena kita tinggalkan.


Aku 'tak tahu hubungan antar dua kalimat diatas.


Seperti 'tak tahunya aku alasan sesuatu yang pernah datang, namun sangat singkat...


Sesingkat keceriaan yang terjadi saat siang hari..,


Hari yang telah lalu...


WoodStation, September 2016