Menelusuri semenanjung Malaya -Part 1 : Berjalan Kaki di Kuala Lumpur-

Minggu, 04 Juni 2023

 

-Part 1 : Berjalan Kaki di Kuala Lumpur-

PEDESTRIAN IN KUALA LUMPUR

Perjalanan darat melintasi perbatasan negara sudah menjadi keinginan saya sejak lama. Tapi itu tidak mudah untuk dilakukan jika kamu tinggal di pulau yang dikelilingi lautan. Perjalalanan melalui udara harus dilakukan, itu mudah namun itu tidaklah murah.

 

Saya melakukan perjalanan perdana melintasi negara melalui perjalanan darat tepatnya sudah 4 tahun lalu sebelum tulisan ini dibuat. Melakukan perjalanan secara dadakan tanpa perencanaan yang kurang matang dan perencanaan keuangan selama perjalanan yang sama sekali tidak beraturan.

 

Saat itu perjalanan dilakuan ketika umat islam, saya salah satunya, melakukan ibadah puasa dibulan suci ramadhan. Awal Juni 2019 perjalanan dilakukan. Saya mengajak seorang teman saya; namanya Riki. Kami belum cukup lama saling mengenal, berawal dari pendakian Gunung Merbabu ditahun yang sama sehingga kami bisa berada di grup whatsapp yang sama. Riki adalah perantau dari luar pulau yang cukup sulit untuk didatangi maka itu dia tidak akan merayakan hari raya bersama keluarga.

 

Saya mengontak Riki di whatsapp untuk mengajak berpergian untuk mengisi waktu liburan hari raya dan dia langsung menyetujuinnya. Beberapa destinasi telah kami list sebagai tujuan kami sampai akhirnya kami sepakat untuk menelusuri semenanjung Malaya sebagai destinasi liburan kami.

 

Selasa dini hari saat itu langit cerah, kami berangkat dari dari Bandara Soekarno-Hatta menuju KL International Airport Malaysia. Saat kami sampai di Kuala Lumpur hari masih gelap, masih ada kurang lebih sejam lagi sampai matahari terbit. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

 

Malaysia terbilang cukup baik dalam hal manajemen transportasi. Meskipun ini pertama kali kami mengunjungi negara ini tapi kami merasa tidak kesulitan untuk menuju destinasi yang akan kami tuju, pilihan moda kendaraannya juga bervariasi dan terpusat.

 

Karena waktu masih terlalu pagi untuk kami melakukan check-in hotel yang berada di tengah kota

GOD STATUE IN BATU CAVES

Kuala Lumpur kami memutuskan untuk mengunjungi Batu Caves. Dengan jarak yang hanya belasan kilometer dari Kuala Lumpur, Batu Caves menjadi tujuan transit sempurna sembari kami menuju hotel termpat kami menginap. Untuk menuju Batu Caves kami menaiki KTM KOMUTER dari stasiun KL Sentral dengan tujuan stasiun Batu Caves.

 

Batu Caves adalah bukit kapur yang memiliki gua yang juga didalamnya dijadikan peribadatan bagi umat Hindu yang terletak di distrik Gombak Selangor. Di pelataran situs wisata Batu Caves kami disambut oleh patung Dewa Murungan; salah satu dewa bagi umat Hindu. Patung itu berdiri menjulang setinggi 18 Meter. Di pelataran tersebut kami juga disambut oleh puluhan burung dara jinak. Masih di situs wisata Batu Caves kami juga sempat menaiki 200-an anak tangga untuk menuju ke gua kapur yang di dalamnya terdapat kuil Hindu.





Setelah puas berkeliling di situs wisata Batu Caves kami memutuskan untuk kembali ke pusat kota Kuala Lumpur untuk check-in di hotel tempat kami menginap. Kami menginap di hotel Cintamani Travellers Lodge, yang terletak Kuala Lumpur. Hotel ini cukup harga sewa yang terjangkau, bersih dan berada di lokasi yang strategis. Sangat cocok untuk wisatawan ala backpacker.

 

Setelah beristirahat sebentar, siang itu juga kami tidak sabar untuk berkeliling kota. Tujuan kami saat itu adalah Menara Kembar Petronas, ikon yang paling terkenal di Kuala Lumpur. Kami berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 KM waktu yang ditempuh tidak sampai satu jam.

 


Saya sangat suka berjalan kaki jika berpergian ke tempat yang baru dikunjungi apalagi jika prasarana sangat mendukung untuk para pejalan kaki, hal ini yang saya temui di Kuala Lumpur. Meskipun kota besar yang pastinya terdapat banyak kendaraan bermotor, namun udara yang saya hirup masih terasa segar sama sekali tidak tercium bau polusi kendaraan bermotor. Cuacanya juga sangat mendukung, tidak terasa panas padahal saat itu kami berjalan kaki siang hari.

 

Masih di satu area dengan Menara Kembar Petronas atau bisa disebut juga dengan KLCC Twin Towers, terdapat taman kota yang cukup indah yang juga terdapat kolam dan air mancur yang cukup mewah. Sangat cocok untuk membawa serta keluarga di tempat ini. Puas berkeliling kami kembali ke hotel untuk beristirat.

 

Menjelang maghrib kami keluar untuk mencari makan, kami juga menyempatkan untuk mengunjungi dan salat maghrib di Masjid Jamek Sultan Abdul Samad, mesjid ini adalah salah satu yang tertua di Kuala Lumpur. Mesjid ini ber arsitektur dengan gaya Moor dan disekeliling mesjid terdapat banyak pohon palem. Masjid ini terletak di pertemuan arus Sungai Kelang dan Sungai Gombak, hal ini semakin menjadikan mesjid bersejarah yang dibagun pada tahun 1909 ini tidak boleh dilewatkan jika Anda berkesempatan mengunjungi Kuala Lumpur.


 

Karena saat itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, didekat mesjid terdapat pula bazar Ramadhan, terdapat banyak penjaja makanan dengan konsep food truck dengan harga yang cukup terjangkau.

 

Tidak jauh dari Masjid Jamek juga terdapat bangunan megah bersejarah, Gedung Sultan Abdul Samad yang dibangun pada tahun 1897, bangunan ini memakai arsitektur Mughal India sedangkan arsitektur luarnya bergaya Eropa. Tata pencahayaan gedung ini semakin memperindah gedung ini terutama pada malam hari.

 

Hari itu adalah malam terakhir namun bukan yang paling akhir kami berada di Kuala Lumpur, karena malam itu juga kami akan bertolak ke Pulau Penang.

 

Bersambung…

 

Menelusuri Semenanjung Malaya part II : Pulau Penang

0 komentar:

Posting Komentar