Percetakan in Love

Kamis, 07 Juni 2012
      Aku merasakan kehangatan sore hari ini. Kulihat banyak mahasiswa yang mungkin baru saja pulang dari kampusnya. Pemandangan Gunung Geulis dari kejauhan menambah indahnya si sore hari ini. Kunaiki angkot dengan tujuan pasti. Percetakan.... adalah alasan mengapa aku menaiki angkot ini. Ku emban amanat dari teman-temanku untuk mengambil majalah dari percetakan yang telah kita susun selama sebulan ini. Ah... aku baru menyadari bahwa proses pembuatan majalah memang tidak semudah membacanya. Menentukan tema, mencari berita, mewawancarai narasumber dan terakhir menyusun tata letak majalah sebelum akhirnya menuju percetakan, merupakan pekerjaan yang berat namun menyanangkan. Aku harus terbiasa dengan dunia tulis menulis, karena aku adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) yang semester depan rencananya akan memilih jurusan jurnalistik.

      Lamuananku tentang proses pembuatan majalah pun buyar ketika aku teringat bahwa aku tidak begitu ingat dimana tepatnya tempat percetakan itu berada. Ya.... aku memang hanya pernah ke tempat itu sekali, dua hari yang lalu tepatnya saat meyerahkan soft-copy majalah kepada pihak percetakan.
“Turun di sini aja kang.” Seruku pada tukang angkot.
      Aku memang tidak yakin apakah aku turun di tempat yang benar, tapi yaaa sudahlah. Lagipula aku telah diberi anugerah berkomunikasi oleh Tuhan sebagaimana hakikatnya makhluk hidup, mengapa tidak aku gunakan?. Dengan sabar aku telusuri jalan sembari menyusuri pandanganku ke plang toko, ya mungkin saja aku menemukan tempat percatakan yang aku datangi dua hari yang lalu. 
      Akhirnya sampai juga aku ke tempat yang aku ingin tuju. Keberhasilan aku mencapai tempat tidak lepas juga dari jasa tukang ojek, tukang parkir, ibu penjaga toko karena dari merekalah aku mendapat informasi dimana letak pastinya tempat ini.
      Kulepas sepatuku yang solnya hampir copot dan kutaruh di tempat yang disediakan. Percetakan ini memang tidak mengizinkan alas kaki masuk ke tempat ini. Saat kubuka pintu (percetakan) kucium aroma kertas, kudengar desingan printer yang sedang melakukan tugasnya menggores tinta ke dalam kertas yang putih bersih. Lalu-lalang pelanggan juga ikut menciptakan suasana riweuh khas percetakan.
     
Kukeluarkan bon dan sejumlah uang dari dompet lusuhku untuk menebus biaya percetakan majalah. Sebelum kulangkahkan kaki menuju tempat pengambilan, aku melihat print-out majalahku ada di tangan seorang gadis cantik yang sebaya denganku. Aku duga dia juga mahasiswa Fikom, sama sepertiku.

“hmm mungkin ia ingin mencetak majalahnya di tempat ini juga dan sebelumnya melihat hasil cetakan majalah yang sudah jadi punya orang lain yang kebetulan adalah milikku.” Pikirku..

Dugaan ku memang benar. Segera saja aku meminta majalah itu dan ia memberikannya padaku. “mau cetak majalah ya? Dari kelas apa?” tanyaku. “Kelas K” jawabnya dan saat itu juga ia menyadari bahwa majalah yang dilihatnya tadi adalah punyaku. “ oh kamu cetak juga ya, majalahmu kok halamannya banyak sih?, beda dari majalahku, memang kamu kelas apa?” dia mengajukan rentetan pertanyaan kepadaku, aku hanya menjawab dengan seadanya. Aku tau dia tertarik untuk mengobrol dan mengajukan pertanyaan seputar projek tugas pembuatan majalah. Dia terlihat ramah kepadaku, ya wajar, aku berpikir memang seharusnya begitu karena menurut teori psikologi komunikasi, seseorang akan tertarik kepada sesutu salah satunya karena adanya kesamaan. Ya... kesamaan diantara kita adalah sama-sama diwajibkan membuat majalah untuk tugas akhir pengantar ilmu jurnalistik (PIJ). Kami juga saling berkenalan dan setelah bercakap-cakap singkat yang tentunya seputar tugas majalah, aku pun membayar sejumlah uang untuk menebus mejalahku dan bergegas kembali pulang.

“ hey aku duluan ya...” sapaku.. 
“iya Dika, kelas apa kamu tadi? kelas F ya... sampai ketemu di kampus ya”balasnya

Jleg!!!... dia mengingat namaku..., aku bahkan tidak memperhatikan namanya saat kami berkenalan tadi. Ya memang tadi aku lebih fokus pada hasil print-out majalahku dan sedikit memiliki gangguan ingatan jangka pendek. Sempat terlintas dipikiran ku untuk kembali menanyakan namanya, tetapi kuurungkan niatku. Aku kembali memakai sepatu yang kulepas di depan percetakan dan menaiki angkot pertama yang kulihat saat keluar dari ruangan itu (percetakan). Terbayang keramahan di wajah gadis yang kutemui di percetakan tadi, aku menyesal tidak fokus pada percakapan singkat itu dengannya, aku menyesal tidak mengingat namanya...aku bahkan hanya sedikit mengingat wajahnya. Kelas K.... hanya itu yang bisa aku ingat.
Akankah aku bisa bertemu kamu lagi??? wahai gadis yang kutemui di percetakan...
Percetakan in Love

1 komentar:

  1. Unknown mengatakan...:

    Jasa Desain Grafis Murah
    http://www.desainbrothers.net/

Posting Komentar