Keadilan yang Pincang

Selasa, 12 Juni 2012
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh83JQCa2LffFQOaixZplSwR1Um-mBllQQty-7H4YNapzOLCfKM-HMmdpxgdA0o_THZEqk4zVvxWSc7C7Kt4el-7NIQsyjfR-6QW7E3DRTTvne7TYDuV-u0-gTtLHA5JZq2uWj4-hQJmbw/s320/suap.jpg
Menurut saya keadilan dunia pendidikan di Indonesia memang sudah pincang!!!...

Ada yang mau protes dengan pernyataan saya? Siapa? Siapa yang berani menyangkal?

    Saya tidak tahu apakah ketidakadilan ini terjadi juga di negara lain... yang pasti di negara ini sudah terjadi persengkongkolan yang sangat licik antara si yang punya duit dengan si pemegang kekuasaan. Mau contoh? Ya saat ini saya memang tidak bisa menemukan bukti konkrit, karena sekarang saya hanyalah mahasiswa yang sedang merintis ilmu yang berfungsi sebagai kontrol sosial. Jurnalistik. Saya berjanji akan menemukan bukti yang konkrit suatu hari nanti, membongkar semua kecurangan pendidikan yang ada di negeri ini.
    Menjadi siswa di suatu sekolah negeri menjadi suatu kebanggaan. Itulah fenomena yang terjadi di negeri ini. Wajar... karena untuk menjadi siswa sekolah negeri harus memenuhi syarat tertentu dan tentunya membutuhkan persaingan untuk mencapainya. Biasanya syarat ini dapat dipenuhi jika Anda lulus tes tertulis atau nilai nilai evaluasi murni (NEM) Anda memenuhi target nilai yang telah ditentukan. Sistem ini masih berjalan,namun akhir-akhir ini telah dibumbui oleh bumbu kecurangan!.
Saya tinggal di kota B (ini adalah kota yang persis bersebelahan dengan kota Jakarta di sebelah timur), di kota B ini, sudah menjadi rahasia umum jika untuk mendapatkan sekolah negeri, bisa dengan lewat “jalur belakang” syaratnya hanyalah dengan membayar sejumlah uang yang telah disepakati bersama antara si yang mempunyai dana dengan si pemicu kecurangan yang biasanya merupakan orang “dalam”, biasanya merupakan oknum guru ataupun staf  tata usaha (TU) di sekolah yang bersangkutan.
    Saya pernah bersekolah  di SMAN  di suatu kota yang terletak di timur kota Jakarta. Saya merasa begitu bangga bisa lolos seleksi masuk sekolah ini. Tapi kebanggan saya berubah menjadi kekecewaan setelah mengetahui sistem pendidikan di sekolah ini sangat buruk. Ada beberapa tenaga pengajar yang jarang masuk, cara mengajar yang tidak profesional.. memang tidak semua, tapi sebagian besar!!!
    Kecurangan dalam dunia pendidikan tidak hanya berakhir pada tingkat sekolahan, bahkan lebih parah.. kecurangan ini juga terdapat di tingkat universitas. Contohnya?... ujian mandiri.. ya ujian mandiri yang tanpa test. Sementara ada mahasiswa yang telah lolos dari jalur SNMPTN tertulis dan banyak pula yang tersingkir karena derasnya arus persaingan,, si pendaftar jalur mandiri tanpa test ini dengan mudahnya, hanya menggunakan kekayaan materinya bisa lolos. Itu namanya CURANG!!!
    Pihak universitas sih bilangnya nilai ujian mandiri diambil dari nilai SNMPTN tertulis yang telah diadakan sebelumnya. Tetapi salah seorang teman saya yang telah gagal di jalur SNMPTN tertulis, bisa berhasil lolos lewat ujian mandiri dengan pilihan fakultas yang sama.
Ahh...  dunia ini memang tidak adil, tapi inilah hidup. Persaingan.. baik sehat maupun tidak terjadi dimana-mana. Inilah hidup... fenomena kecurangan yang telah menjadi rahasia umum sebaiknya jangan membuat kita terpengaruh. Hati nurani kita lah yang bermain disini....

0 komentar:

Posting Komentar